Minggu, 19 Juli 2020

Perintah Berpikir Dan Nuzulul Qur’an

Perintah Berpikir Dan Nuzulul Qur’an

Akal dan wahyu merupakan sebuah tema yang akan selalu hangat untuk diperbincangkan. Salah satu alasan adalah karena akal dan wahyu merupakan satu bahasan teologi Islam yang tak pernah lepas dari polemik. Penggunaan akal yang lebih dominan dari wahyu akan menghasilkan pemikiran yang cenderung liberal sedangkan pemikiran yang mengesampingkan akal akan cenderung tekstual dan tradisional. Aliran lain yang memilih jalan di antaranya yakni keselarasan penggunaan akal dan wahyu sehingga melahirkan corak pemikiran yang lebih moderat.

Dalam sejarah kita pernah membaca kisahnya nabi Ibrahim AS yang diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al ‘an’am ketika nabi Ibrahim merenung, berpikir dan bertadabbur untuk mengetahui hakikat khidupan dan pencipta. Allah SWT berfirman :

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ ﴿٧٦﴾

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ ﴿٧٧﴾

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ ﴿٧٨﴾

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٧٩﴾[1]

Artinya : Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”76
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”77
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”78
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang
musyrik.79

Di ayat di atas kita mengetahui peran akal dan wahyu yang membimbing nabi Ibrahim untuk bertauhid kepada Allah SWT dan berlepas dari seluruh makhluk yang menurutnya memiliki pengaruh dalam kehidupan di muka bumi ini, seperti bintang, bulan dan matahari.

Dalam sebuah hadist rosululloh SAW juga menyetujui penggunaan akal ketika beliau mengutus sahabat Muadz bin Jabal rodhiyallohuanhu ke yaman untuk berdakwah dan menghukumi permasalahan penduduk yaman.

عن معاذ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعثه إلى اليمن قال : كيف تصنع إن عرض لك قضاء ؟ قال : أقضي بما في كتاب الله ، قال : فإن لم يكن في كتاب الله ؟ قال : فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : فإن لم يكن في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أجتهد رأيي لا آلو ، قال : فضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم صدري ثم قال : الحمد لله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضي رسول الله صلى الله عليه وسلم[2] 

Berpikir adalah pekerjaan dasar manusia. Kata al aql merupakan masdar dari kata aqola- aqlan artinya paham ( tahu/mengerti) dan memikirkan (menimbang). Kata al aql merupakan salah satu bentuk derivasi dari akar kata “aqala” yang berarti memikirkan hakekat di balik suatu kejadian “ atau robatho (mengikat) (al mu’jam al wasith 616-617). Kemudian Akal terulang sebanyak 49X di dalam alqur’an, : 1. Ta’qilun diulang sebanyak 24X, 2.ya’qilun sebanyak 22 X, 3. Ada 3 kata yang masing-masing diulang 1 kali aqala, na’qilu dan ya’qilu

Setelah mengetahui asal kata Al aql, kita melihat proses turunya alqur’an atau sering kita sebut dengan nuzulul qur’an. Proses turunya alqur’an ada 2 periode yaitu waktu turunya di mekah disebut makiyah dan ketika turun di Madinah disebut madaniyah. Dari 2 periode ini ada kekhususan pembahasan dan materi yang disampaikan.

Periode mekah berbicara tentang : konsep tauhid, konsep penciptaan, konsep manusia, konsep adab, konsep alam dunia, konsep hari akhir, konsep kenabian, konsep ilmu, konsep agama, konsep ibadah, konsep kebenaran, konsep kebaikan dan konsep kebahagiaan.

Periode medinah berbicara tentang : konsep ukhuwah, konsep daulah, konsep ummah, konsep jihad dan konsep penyempurnaan. Dari perbedaan konsep yang dibahas diatas didasarkan dengan kondisi umat islam.



[1] Al qur’an surat al an’am ayat 76-79

[2] سنن أبي داوود كتاب الأقضية حديث رقم 3172


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adab pendidik di era mileneal

  Resume materi ke 2 Nama    : Agus Khoirul Anwar Matkul : Supervisi Pendidikan Islam Ilmu menurut Imam Ghozali adalah ma’rifatus sy...