Perintah Berpikir Dan Nuzulul Qur’an
Akal dan wahyu merupakan sebuah tema
yang akan selalu hangat untuk diperbincangkan. Salah satu alasan adalah karena
akal dan wahyu merupakan satu bahasan teologi Islam yang tak pernah lepas dari polemik.
Penggunaan akal yang lebih dominan dari wahyu akan menghasilkan pemikiran yang
cenderung liberal sedangkan pemikiran yang mengesampingkan akal akan cenderung
tekstual dan tradisional. Aliran lain yang memilih jalan di antaranya yakni
keselarasan penggunaan akal dan wahyu sehingga melahirkan corak pemikiran yang
lebih moderat.
Dalam sejarah kita pernah membaca
kisahnya nabi Ibrahim AS yang diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al ‘an’am
ketika nabi Ibrahim merenung, berpikir dan bertadabbur untuk mengetahui hakikat
khidupan dan pencipta. Allah SWT berfirman :
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ ﴿٧٦﴾
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ
فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ
لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ ﴿٧٧﴾
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ ﴿٧٨﴾
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٧٩﴾[1]
Artinya : Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim)
melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika
bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”76
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia
berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata,
“Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk
orang-orang yang sesat.”77
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia
berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam,
dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu
persekutukan.”78
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang
menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang
benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.79
Di ayat di atas kita mengetahui peran
akal dan wahyu yang membimbing nabi Ibrahim untuk bertauhid kepada Allah SWT
dan berlepas dari seluruh makhluk yang menurutnya memiliki pengaruh dalam
kehidupan di muka bumi ini, seperti bintang, bulan dan matahari.
Dalam sebuah hadist rosululloh SAW juga
menyetujui penggunaan akal ketika beliau mengutus sahabat Muadz bin Jabal
rodhiyallohuanhu ke yaman untuk berdakwah dan menghukumi permasalahan penduduk
yaman.
عن معاذ أن
رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعثه إلى اليمن قال : كيف تصنع إن عرض لك قضاء ؟ قال : أقضي بما في كتاب
الله ، قال : فإن لم يكن في كتاب الله ؟ قال : فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم
، قال : فإن لم يكن في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أجتهد رأيي لا
آلو ، قال : فضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم صدري ثم قال : الحمد لله الذي وفق
رسول رسول الله لما يرضي رسول الله صلى الله عليه وسلم[2]
Berpikir adalah pekerjaan dasar manusia. Kata al aql merupakan masdar dari kata
aqola- aqlan artinya paham ( tahu/mengerti) dan memikirkan (menimbang). Kata al
aql merupakan salah satu bentuk derivasi dari akar kata “aqala” yang berarti
memikirkan hakekat di balik suatu kejadian “ atau robatho (mengikat) (al mu’jam
al wasith 616-617). Kemudian Akal terulang sebanyak 49X di dalam alqur’an, : 1.
Ta’qilun diulang sebanyak 24X, 2.ya’qilun sebanyak 22 X, 3. Ada 3 kata yang
masing-masing diulang 1 kali aqala, na’qilu dan ya’qilu
Setelah mengetahui asal kata Al aql, kita
melihat proses turunya alqur’an atau sering kita sebut dengan nuzulul qur’an.
Proses turunya alqur’an ada 2 periode yaitu waktu turunya di mekah disebut
makiyah dan ketika turun di Madinah disebut madaniyah. Dari 2 periode ini ada
kekhususan pembahasan dan materi yang disampaikan.
Periode mekah berbicara tentang : konsep
tauhid, konsep penciptaan, konsep manusia, konsep adab, konsep alam dunia,
konsep hari akhir, konsep kenabian, konsep ilmu, konsep agama, konsep ibadah,
konsep kebenaran, konsep kebaikan dan konsep kebahagiaan.
Periode medinah berbicara tentang : konsep
ukhuwah, konsep daulah, konsep ummah, konsep jihad dan konsep penyempurnaan. Dari
perbedaan konsep yang dibahas diatas didasarkan dengan kondisi umat islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar